TSUNAMI DALAM PENA TANGISAN
Oleh: Lutfa Munawar
Aku anak serambi,
Andai aku jadi penguasa laut,
Akan aku buat istana dalam
lempengan-lempengan samudera.
Akan aku susun batu karang digaris-garis
pantai.
Andai aku pemilik butiran-butiran pasir,
Akan aku buat istana pasir yang megah,
Yang berukuran 2x3 meter.
Walau kecil
Tak apa, akan ku ajak bapa, mamak ke
dalamnya.
Bersenda gurau, makan mie Aceh bersama.
Tapi, tiba-tiba pasirnya meleleh,
karena air laut
Aku tak perdulikan itu,
Tapi lelehan itu buat bapaku kesakitan,
mamakku nafasnya tersendak-sendak
karena air menelusuri kerongkongannya.
Airmata ku segerentak menetes melihat
takdir itu
Itu Tsunami
Itu Gulungan Air
Ya Allah
Jangan kau sapu tanahku
Jangan kau tugaskan malaikamu untuk
menyeret bapa dan mamaku
Aku Mohon
Jangan kau usik lagi dinding rumahku
dengan air bah itu
Aku hanya sebatang kara yang butuh mamak
dan bapa
(baca juga Puisi untuk Aceh: Tangisan Dalam Tumpukan Puing-puing)
(baca juga Puisi untuk Aceh: Tangisan Dalam Tumpukan Puing-puing)
![]() |
| via acehterkini.com |
Tsunami
Aku harap kau bukan air bah dalam kisah
Nuh
Aku harap kau bukan bumi
yang dijungkirbalikan dalam kisah Luth
Aku tak mau adzab
Aku tak mau murka
Aku tak mau kau marah
Sayangi Aceh ya Rabb
Kasihi Aceh Besar,
Aceh Jaya, Pidie,
Kota Nangroe
Aku anak yang hanya
bisa berangan-angan
membuat istana pasir
Melukis garis pantai

2 komentar
Write komentarkamati teuh
ReplyEmoticonEmoticon