PUISI MENGENANG 12 TAHUN TSUNAMI: TSUNAMI DALAM PENA TANGISAN

TSUNAMI DALAM PENA TANGISAN
Oleh: Lutfa Munawar

Aku anak serambi,
Andai aku jadi penguasa laut,
Akan aku buat istana dalam
lempengan-lempengan samudera.
Akan aku susun batu karang digaris-garis pantai.

Andai aku pemilik butiran-butiran pasir,
Akan aku buat istana pasir yang megah,
Yang berukuran 2x3 meter.

Walau kecil
Tak apa, akan ku ajak bapa, mamak ke dalamnya.

Bersenda gurau, makan mie Aceh bersama.


Tapi, tiba-tiba pasirnya meleleh,
karena air laut

Aku tak perdulikan itu,
Tapi lelehan itu buat bapaku kesakitan,
mamakku nafasnya tersendak-sendak
karena air menelusuri kerongkongannya.

Airmata ku segerentak menetes melihat takdir itu

Itu Tsunami
Itu Gulungan Air

Ya Allah
Jangan kau sapu tanahku
Jangan kau tugaskan malaikamu untuk
menyeret bapa dan mamaku

Aku Mohon
Jangan kau usik lagi dinding rumahku dengan air bah itu

Aku hanya sebatang kara yang butuh mamak dan bapa

(baca juga Puisi untuk Aceh: Tangisan Dalam Tumpukan Puing-puing)
via acehterkini.com

Tsunami
Aku harap kau bukan air bah dalam kisah Nuh
Aku harap kau bukan bumi
yang dijungkirbalikan dalam kisah Luth

Aku tak mau adzab
Aku tak mau murka
Aku tak mau kau marah

Sayangi Aceh ya Rabb
Kasihi Aceh Besar, Aceh Jaya, Pidie,
Kota Nangroe

Aku anak yang hanya bisa berangan-angan
membuat istana pasir
Melukis garis pantai


Semoga Aceh dalam pelukanmu Rabbku

(baca juga Tangisan Dalam Tumpukan Puing-puing)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar