Pengamen Juga Bisa 'Thug Life'

Harta tahta dan wanita, pribahasa lama yang menjadi simbol kehidupan yang fana. Di kota besar Bandung seperti ini, harta tahta dan wanita itu adalah segala-galanya, orang disini orang rela untuk melakukan apa saja untuk kepuasan duniawi mereka. Terutama harta dan wanita.

Gak terasa udah hampir sebulan aku kesini, menikmati hari-hari sepi sebagai perantau pemula itu ibarat sunatan, awal-awalnya sakit tapi lama-lama kelamaan terbiasa kok. (baca juga: Bahaya delay pesawat ke133, dijauhi cewek cantik )

Perkuliahan tahun ajaran baru mulainya masih sebulan-an lagi. Lumayan masih bisa main sambilan adaptasi dengan kehidupan di tanah pasundan ini. Bosen di kostan, kuajak adit, anak aceh yang juga kuliah disini. Kuajak main ke alun-alun kota, weekend seperti ini biasanya banyak neng geulis.

Kebetulan hari itu ada karnaval di samping gedung merdeka, jadi banyak spg-spg malang-melintang di sudut-sudut kota. Setelah lelah berjalan, kaki mulai kebas pertanda minta istirahat, bandung emang kota yang terkenal dengan bangku-bangkunya yang tersusun rapi dipinggir jalan. Kursi kayu yang agak panjang disamping tong sampah merah kujadikan tempat istirahat  sejenak, sambil melihat gerak-gerik anak-anak muda insan kreatif kota bandung dengan berbagai aktivitasnya.

Ya, seperti dugaanku sebelumnya. Gak lama kami duduk disitu langsung sampai pengamen menyapa. Kali ini datang dua orang, yang satu memakai alat musik gendang, satunya lagi dengan gitar ukulele.

“punten mas, tak ada salahnya saling membantu sesama, mending cari duit halal daripada copet maling itu gak baik yak. Saya asep dan ini temen saya fadal, kami akan menghibur abang-abang sekalian, maklum bandung ini kota seniman, dan jika seniman tidak diapresiasi maka seni di negeri ini akan mati”

Aku membetulkan posisi dudukku pertanda tertarik dengan penampilan mereka

“langsung aja, ayo kita mainkan sep” fadal menepuk pundak asep

((*kemudian mereka menyanyi sekenanya dengan suara seadanya dan irama musik yang gak teratur))

Kupikir ini akan jadi penampilan pengamen yang beda dari pengamen umumnya, rupanya enggak. Mereka cuma beda di bacotan awal doang, lah pas nyanyi malah fales!!
Aku kecewa, Kuambil sisa receh di kantongku lalu kukasih mereka, yap bener saja langsung ditengah lagu mereka berhenti lalu pergi.

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal
“lahhh, tadi di bacotannya bilang minta diapresiasi, dikasih gopek langsung pergi” kataku ke si adit

*kemudian tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundak ku.

“mas”

“iya?” seruku setengah terkejut

Lalu dia berbisik halus kepadaku

“PENGAMEN JUGA PUNYA HARGA DIRI KELES”

*dikasihnya kembali uang tadi. kemudian dia pergi sambil memakai kacamata


((thug life versi pengamen bandungnese njirrr))
gambar kuambek di 8tracks.com

Bahaya delay pesawat ke 133, Dijauhi cewek cantik

Akhirnya tiba juga waktu keberangkatan aku merantau. Di bandara pagi itu terlihat banyak kawan yang ikut mengantar melepas kepergianku, bahkan zahlul dan farisi jauh-jauh datang dari seberang pulau untuk mengantar teman seperjuangan dari masih balita. Suasana haru sekilas datang, bahkan si imam sukses dengan jeleknya nangis di pangkuan wafie, yang membuat hitam eksotis kulitnya terasa bersinar udah kek cahaya ilahi ketika ingus ikut saling sapa dengan air mata.

Pak putra guru kami, nampak jelas matanya berkaca-kaca, tapi gengsi dong kalo nangis, beliau tetap duduk tenang menjaga wibawanya.

Garuda Indonesiaaaaah uwoooo


Pesawat delay 50 menit, boarding room penuh dengan muka-muka orang merasa kesal, sofa merah hitam dipojokan kujadikan tempat berdiam, kuhidupkan laptop dan langsung menyetel fifa 15 kesukaanku. Wafie dan sandy bolak balik nelponan, ditengah keasikanku datang seorang cewek yang kelihatannya sebaya denganku, kulitnya putih manis, senyumnya manis, dan kalo makan suka lewat hidung.

“misi mas, lagi main fifa ya?”
“eh iya neng” jawabku setengah terkejut
“boleh ikut gabung gak? Bosan bener ni, pesawat aku delaynya 2 jam”
“iya neng boleh kok, ni ambil aja” kukasih stik sambil ngedipin mata

Rupanya dia cewek yang asik, orangnya easy going, nyambunglah pokoknya dengan sifat aku yang tak kalah liar dari lembu kampung.

“terbang kemana mas?” dia kembali bersuara setelah lama memilah milih tim
“ke bandung mbak, mbak kemana?
“duhhh jangan panggil mbak dong, panggil aja nia, yaa”
“haha iyadeh, nia berangkat kemana?”

Dia gak jawab karena lagi minum air mineral yang dikasih pihak maskapai karena pesawatnya delay.

“aku bingung deh, delay gini cuma dikasih aqua, prettt” dia kembali bersuara

“lah emang harusnya gimana?”

“ya harusnya dikasih makanan juga dong, apalagi kalo pesawat yang ini selalu delay, kurasa aku harus kasih tau pihak maskapai untuk inisiatif untuk membuat makanan prasmanan sebagai permintaan maaf keterlambatan, coba aja gitu pasti gak ada orang yang mukanya kesel gitu” kata dia sambil menunjuk seorang bapak-bapak kumisan yang mukanya setengah nahan marah

“hahaha mukanya kok gitu kali, kayak iblis yang gagal menggoda manusia”

“emangnya kek mana muka iblis yang ke bilang tu?”

“ya gitu, liat aja tu kumisnya, kayak genderowo baru habis makan orok, tu kuyakin tu makhluk siluman. Apa kamu kepo kali, belum pernah liat makhluk rusak gitu ya?

“Pernah, tiap hari malah!!”

“Lah?”

“Dia bapak aku”

“Hah?”

“Iya itu orang yang kamu bilang kayak iblis ama genderuwo makan orok itu papa aku!!!”.


*Kemudian hening