Ketika
abis reformasi 2018 (Mubesnya LPM Suaka), malam selanjutnya dering teleponku
berbunyi atas nama Elsa, Pemimpin Redaksi baru LPM Suaka, ah aku udah tau ni arahnya kemana, makanya ketika mau mengangkat
aku tidak memulai dengan assalamualaikum, tapi langsung aja dengan kata-kata
“aku gamau lagi jadi redaktur foto, Elsa.” Kataku
Tapi
ternyata ada plot twist dari dia. “Bukan, aku bukan mau omongin redaktur foto”
ujarnya selow, sepertinya itu kali pertama dalam hidupku mendengar Elsa berbicara dengan
nada rendah. Abis biasanya dia teriak-teriak, ngescream, mungkin karena dia ngefans ama Linkin Park.
Dengan nada suara yang lemah, aku
khawatirnya saat itu dia nelpon karena sedang sakit keras dan didiagnosis
dokter umurnya sisa 5 menit. “Aku mau mati ris, kamu satu-satunya orang di
dunia ini yang beruntung bisa mendengar suara lembutku tanpa unsur rocknya” wow
ini sebagai seorang Haris aku sangat senang sekali mendapatkan kehormatan ini.
“Kamu
sakit apa emangnya?” tanyaku lagi
“Lambung
ris, makanyaa kamu kurang-kurangi miras ya, ganja gapapa” pesan elsa, mungkin
ini wejangan terakhirnya.
“Yahh
udah jalan semenit nih, sisa umurku sisa 4 menit lagi” timpalnya lagi dengan
nada makin rendah seperti suara lumba-lumba
“Eh
Ya Allah Ya Allah Ya Allah. Apa yang bisa kubantu untuk memperpanjang umurmu?
Jangan mati dulu, kasian Diki jadi duda tanpa anak.”
“Sebenarnya
ada satu cara agar aku terselamatkan dan aku dapat hidup abadi”
“Apa
itu hayati, katakan, katakan, aku kuturuti semua perintahmu, dan kujauhi segala
laranganmu” ujarnya memberinya harapan
“Aku
ingin kamu...” ucapnya nanggung
“Boleh
pake puisi? Elsa bertanya, suara semakin kecil, mungkin karena umurnya sisa 3
menit
“Boleh
Elsa ya Allah ih, pake pantun juga boleh, ntar aku bilang cakep” kataku serius
“Gak
ris makasih, puisi aja”
“TERSERAH!”
kalo bukan karena mau meninggal gaakan kuladeni deh ini orang
Kemudian
ia berpuisi, gatau itu buatan sendiri atau searching di google.
“Haris, Kadang
ketika aku menatapmu, Aku
merasa ada keindahan yang tak terjamah pada dirimu, Namun, semakin lama aku menatapmu, Aku semakin berpikir bahwa keindahan yang
sesungguhnya itu tidak perlu mewah.”
“Dengan
hanya menatap senyumanmu, Aku sudah merasa bahagia, Aku punya kaya semua yang kita punya, Kehampaan yang pernah dulu singgah pada diriku, Perlahan-lahan pergi dan itu semua, Semenjak kamu ada di sini” ia
berkata mantap sambil tersenyum. (sebenarnya aku gatau dia senyum atau enggak
karena lewat telpon, tapi gapapa deh biar lebih dramatis aja).
Kemudian
dia diam sejenak, menarik nafas panjang, dan melanjutkan lagi
“Dan
kamu tahu kenapa kamu istimewa bagiku? Karena
kamu adalalah jawaban dari istilah Sebuah
kebahagian itu. Aku,
aku akan lebih bahagia lagi, Jika
semenjak saat ini kamu bisa, Menerimaku
sebagai pemredmu, Dan saat ini juga aku ingin kamu menjadi, REDAKTUR
TULISANKU,”
Kemudian
hening.
Mungkin
karena puisinya kepanjangan dan merenggut 2 menit dalam sisa hidupnya, umurnya
sisa 59 detik lagi.
Hening
berlangsung lama, tak terasa sudah 49 detik.
Dan
tiba-tiba saja, chef juna berhitung.
Sepuluh,
sembilan, delapan, tujuh, EEEENAAM, lima, empat.
EH
KOK ADA CHEF JUNA?
Ah
bodo, Aku berada di posisi terdesak karena menyangkut nyawa orang, akhirnya aku
mantapkan diri dan bilang ke Elsa.
“Oke”
jawabku
“Yesss
thanks jesus” dia selebrasi sujud syukur sambil melepas infus.
Dan
seperti yang kalian tau, akhirnya elsa bisa hidup selamanya sampai detik ini.
...
Lamunanku
tiba-tiba buyar, Elsa mempertegas permintaannya. Aku jelas saja menolak, bagaimana
tidak, klausul kontrak yang ditawarkan adalah merangkap jabatan Redaktur Foto dan Tulisan.
“Gak
bisa kaya gitu Elsa, kamu gak baca LPJ aku kemarin?”
“Tapi
aku gak bisa kasih redaktur foto ke orang lain, yang berkopeten aku percaya
cuma kamu”
“Aku
cuma bisa satu, redaktur online”
“Tambah
redaktur foto ih” mintanya
“Kan
kamu tau sibuknya aku, kita sudah bersahabat bagai kepompong berubah ulat
menjadi bola pingpong sudah dari jaman teh isti”
“Berubah
jadi kupu-kupu btw” dia mengoreksi
“Ya
maaf typo.” Aku membela diri, kemudian menambahkan
“Aku
sekarang lagi ngurus 7 organisasi, semuanya jadi Kabid, masa nambah dua lagi,
kalo satu aku masih oke”
“Aku
percaya kamu bisa ngatur waktu” ujarnya sok percaya
“Oke”
kataku
“Oke
apa?”
“Aku
mau jadi Redaktur Online”
“Rangkap
ama Redaktur Foto, Haris” dia mulai ketus, mentang-mentang gak jadi meninggal.
“Aku
mohon ini mah, udah gaada orang lagi, yang bisa perbaiki devisi foto cuma kamu,
dan online kan ntar kamu cuma megang satu rubrik, itupun bagi dua ama Lia. Kalo
kamu lagi gak bisa kan ada Lia dia online, tapi di Foto emang gaada orang sama
sekali haris” tambahnya, gatau kenapa sekarang dia mulai ngerap
“Yaudah
deh ah, tapi kita deal-dealan dari sekarang ya biar sama-sama enak nanti”
“Iya
boleh” ujar rapper padang tersebut
“Aku
gamau lagi di kepengurusan sekarang devisi foto jadi anak tiri dianggap sebelah
mata. Terus aku gamau tau, yang masuk diterima ke foto nanti minimal 2 orang.
Urusan magangnya itu urusan aku buat ngejaga produktifitas mereka”
“Iya
aku percaya foto ama kamu”
“Terus
oke aku megang dua, tapi kalo misalnya di akhir-akhir nanti aku berada di
posisi toxic, aku paling bisa ngurus satu aja, paling Foto, karena Online kan
udah ada 3 redaktur.”
“Iya
boleh Haris. Oke berarti aman kan, clear ya?”
“Apanya
yang clear, kamu belum bilang makasih sama aku karena aku telah memanjangkan
harapan hidup kamu”
“Ohiya
hehe lupa, makasih haris” ucapnya
“Sama-sama”
